Laporan Praktikum Pengambilan Spesimen Sputum/Dahak Pasien TBC

LAPORAN PRAKTIKUM

judul

PENGAMBILAN SPESIMEN SPUTUM/DAHAK PASIEN TBC

Mata Kuliah Ilmu Dasar Keperawatan

 Dosen Pengampu Ibu Irnawati, Ns., Ph.D



 

 

 

DISUSUN OLEH :

 

Aziza Azzahra   (202202030018)

Kelas : 2C

 

 

SARJANA KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN

TAHUN 2022/2023

BAB I  PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang

Salah satu tes uji laboratorium yang dilakukam terhadap spesimen guna menentukan penyakit yaitu dengan menggunakan dahak atau sputum. Pemeriksaan sputum adalah salah satu pemeriksaan utama khususnya untuk penyakit di paru-paru seperti TBC dan sekitarnya yang dapat dideteksi dengan sputum (Leonita, 2021)

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu ancaman kesehatan yang mematikan dan masih memiliki kelemahan dalam metode deteksi yang efektif. Hal tersebut berkontribusi terhadap masalah TB di seluruh dunia, karena pasien TB yang tidak mendapat pengobatan tepat dapat menjadi sumber infeksi di komunitas. Kasus TB yang tidak diobati juga meningkatkan mortalitas, khususnya pada penderita HIV (Indonesia K. K., 2017).

Metode pemeriksaan yang banyak digunakan di negara endemik TB adalah pemeriksaan mikroskopis. Namun demikian metode tersebut memiliki sensitivitas yang rendah, tidak mampu dalam menentukan kepekaan obat, dan memiliki kualitas yang berbeda-beda karena dipengaruhi oleh tingkat keterampilan teknisi dalam melakukan pemeriksaan. Diagnosis konvensional untuk mendeteksi TB Resistan Obat (TB RO) bergantung pada biakan dan uji kepekaan obat yang membutuhkan waktu lama dan prosedur khusus dalam isolasi bakteri dari spesimen klinik, identifikasi Mycobacterium tuberculosis (MTB) kompleks, dan pemeriksaan in vitro dalam uji kepekaan obat anti tuberkulosis (OAT). Selama pemeriksaan, pasien mungkin mendapatkan pengobatan yang tidak sesuai, sehingga meningkatkan kemungkinan berkembangnya strain TB resistan obat dan kejadian resistan. Hal tersebut diharapkan dapat diatasi dengan penggunaan pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) dengan Xpert MTB/RIF yang cepat dan dapat mengidentifikasi keberadaan MTB dan resistansi terhadap rifampisin secara simultan, sehingga inisiasi dini terapi yang akurat dapat diberikan dan dapat mengurangi insiden TB secara umum. Hasil penelitian skala besar menunjukkan bahwa pemeriksaan TCM dengan Xpert MTB/RIF memiliki sensitivitas dan spesifisitas untuk diagnosis TB yang jauh lebih baik dibandingkan pemeriksaan mikroskopis serta mendekati kualitas diagnosis dengan pemeriksaan biakan (Indonesia K. K., 2017).

Teknologi molekuler dalam mendiagnosis TB sudah digunakan sejak beberapa waktu yang lalu. Namun demikian, metode yang digunakan terlalu kompleks untuk pemeriksaan rutin di negara berkembang. Tahapan pengolahan spesimen dan ekstraksi DNA mempersulit implementasi di negara dengan sumber daya terbatas. Saat ini, pemeriksaan TCM dengan Xpert MTB/RIF merupakan satu – satunya pemeriksaan molekuler yang mencakup seluruh elemen reaksi yang diperlukan termasuk seluruh reagen yang diperlukan untuk proses PCR (Polymerase Chain Reaction) dalam satu katrid (Gambar 1.1). Pemeriksaan Xpert MTB/RIF mampu mendeteksi DNA MTB kompleks secara kualitatif dari spesimen langsung, baik dari dahak maupun non dahak. Selain mendeteksi MTB kompleks, pemeriksaan Xpert MTB/RIF juga mendeteksi mutasi pada gen rpoB yang menyebabkan resistansi terhadap rifampisin. Pemeriksaan Xpert MTB/RIF dapat mendiagnosis TB dan resistansi terhadap rifampisin secara cepat dan akurat, namun tidak dapat digunakan sebagai pemeriksaan lanjutan (monitoring) pada pasien yang mendapat pengobatan (Indonesia K. K., 2017).

 

B.  Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat menguasai cara pengambilan spesimen dahak pasien TBC  dan cara pengemasan spesimen sebelum dikirimkan ke laboratorium untuk di periksa


BAB II    TINJAUAN TEORI

A.  Definisi

Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Terdapat beberapa spesies Mycobacterium, antara lain: M.tuberculosis, M.africanum, M. bovis, M. Leprae dsb. Yang juga dikenal sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA). Kelompok bakteri Mycobacterium selain Mycobacterium tuberculosis yang bisa menimbulkan gangguan pada saluran nafas dikenal sebagai MOTT (Mycobacterium Other Than Tuberculosis) yang terkadang bisa mengganggu penegakan diagnosis dan pengobatan TB (Indonesia, 2016).

 

B.  Sifat Kuman Tuberculosis

Secara umum sifat kuman Mycobacterium tuberculosis antara lain adalah sebagai berikut (Indonesia, 2016):

1.    Berbentuk batang dengan panjang 1-10 mikron, lebar 0,2 – 0,6 mikron.

2.    Bersifat tahan asam dalam perwanraan dengan metode Ziehl Neelsen, berbentuk batang berwarna merah dalam pemeriksaan dibawah mikroskop.

3.    Memerlukan media khusus untuk biakan, antara lain Lowenstein Jensen, Ogawa.

4.    Tahan terhadap suhu rendah sehingga dapat bertahan hidup dalam jangka waktu lama pada suhu antara 4°C sampai minus 70°C.

5.    Kuman sangat peka terhadap panas, sinar matahari dan sinar ultra violet. Paparan langsung terhada sinar ultra violet, sebagian besar kuman akan mati dalam waktu beberapa menit. Dalam dahak pada suhu antara 30-37°C akan mati dalam waktu lebih kurang 1 minggu.

6.    Kuman dapat bersifat dorman

 

C.  Sumber Penularan Tuberculosis

Sumber penularan adalah pasien TB terutama pasien yang mengandung kuman TB dalam dahaknya. Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei / percik renik). Infeksi akan terjadi apabila seseorang menghirup udara yang mengandung percikan dahak yang infeksius. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak yang mengandung kuman sebanyak 0-3500 M.tuberculosis. Sedangkan kalau bersin dapat mengeluarkan sebanyak 4500 – 1.000.000 M.tuberculosis (Indonesia, 2016).

 

D.  Pemeriksaan Test Cepat Molekuler

Pemeriksaan TCM merupakan metode deteksi molekuler berbasis nested real-time PCR. Penggunaan TCM menjadi prioritas pemeriksaan TB oleh karena mempunyai beberapa kelebihan, di antaranya  (Lusinta, 2020):

1.    Sensitivitas tinggi

2.    Cepat : hasil dapat diketahui dalam waktu kurang lebih 2 jam.

3.    Dapat mendeteksi secara simultan / bersamaan adanya bakteri MTB dan resistensi terhadap rifampisin, yang merupakan salah satu obat anti tuberkulosis yang paling sering digunakan.

Untuk mendiagnosis TB paru, spesimen yang digunakan pada pemeriksaan TCM adalah dahak, baik yang didapat dengan berdahak langsung ataupun dengan diinduksi. Namun pada anak-anak dapat juga digunakan spesimen bilasan lambung ataupun feses. Sedangkan untuk TB ekstra paru, menggunakan spesimen sesuai dengan lokasi infeksi, yang akan ditentukan oleh dokter yang merawat (Lusinta, 2020).


 

BAB III      METODE

 

A.  Alat Dan Bahan

1.    Pot Sputum bermulut lebar (± diameter 5 cm)  bertuliskan nama, nomor Rekam Medis (RM), tanggal, jam, hasil (tidak perlu diisi)



 

2.    Handscoon Bersih 2 pasang

3.    Alcohol Kapas / Alcohol Swab

4.    Tisu

5.    Plastic Ziplock yang baru (yang cukup untuk pot sputum)

6.    Termos (alat untuk mengirim sputum) yang berisi ice gel

7.    Handrub/handsanitizer

8.    Masker N95 (Sebagai APD)

 

B.  Prosedur

1.    Pasien datang ke Poli umum yang nantinya akan dikaji  oleh dokter mengenai keluhan yang dirasakan pasien (misal: batuk selama 2 minggu dan berdahak). Kemudian dokter akan meminta perawat untuk mengecek (mengambil spesimen) dahak pasien.

2.    Sebelum menemui pasien perawat harus mencuci tangan dan mengenakan Alat Pelindung Diri (APD).

3.    Perawat menemui pasien dan mengucapkan salam terapeutik

a.    Mengucap salam

b.    Memperkenalkan diri

c.    Memastikan identitas pasien benar

d.    Menjelaskan tujuan, bagaimana tindakan yang akan dilakukan, dan persetujuan pasien 

4.    Mencuci tangan 6 langkah

5.    Memakai handscoon bersih

6.    Kemudian perawat memperagakan cara batuk yang benar agar dahak yang berkualitas untuk pemeriksaan Tb bisa benar-benar keluar dari paru-paru pasien.

a.    Meminta pasien berkumur-kumur (agar sisa makanan bersih)

b.    Tarik napas 3 kali dari hidung kemudian dihembuskan melalui mulut, dengan bentuk mulut seperti huruf O

c.    Pada tarikan napas ke 3 setelah itu langsung dibatukkan dengan kencang agar dahak masuk ke dalam pot sputum

d.    Ulangi batukan jika sputum belum sampai memenuhi seluruh permukaan bawah pot sputum

7.    Setelah diperagakan oleh perawat, karena pengeluaran spesimen dahak harus di tempat yang khusus untuk berdahak maka pasien ke bilik dahak untuk mengeluarkan dahaknya. Tempat bilik dahak haruslah di ruang terbuka, terkena sinar matahari, ada tempat sampah infeksius, tisu, dan tidak dilalui banyak orang.



 

8.    Setelah selesai pasien kembali ke ruang tunggu. Perawat melakukan tahap terminasi sekaligus memberikan 2 pot sputum berserta plastik ziplock untuk pengambilan dahak  di pagi hari.

9.    Kemudian bersihkan pot sputum menggunakan kapas alkohol

10.    Lepas handscoon yang sudah dikenakan, cuci tangan dan kenakan handscoon yang baru.

11.    Masukkan pot sputum ke dalam plastik ziplock dan setelah itu masukkan ke dalam termos yang sudah berisi ice gel.

12.    Spesimen dahak siap diantarkan ke laboratorium untuk diperiksa dengan mesin cepat

Keterangan :

Untuk menegakkan diagnosis TB secara mikrosko¬pis dibutuhkan tiga contoh uji dahak. Pengumpulan spesimen dahak dilakukan dalam waktu 2 hari  yaitu Sewaktu – Pagi – Sewaktu (SPS)

1.    Sewaktu hari : Dahak pertama diambil Sewaktu pada saat pasien berkunjung ke fasilitas pelayanan kesehatan; Beri pot dahak pada saat pasien pulang untuk keperluan pengumpulan dahak pagi hari berikutnya.

2.    Pagi  Pasien mengeluarkan dahak pada pagi kedua setelah pasien mengunjungi fasilitas peyanan kesehatan. Dahak diambil setelah pasien bangun tidur, sebelum memakan apapun. Kemudian membawa dahaknya langsung pada hari itu juga ke fasilitas pelayanan kesehatan yang sama saat hari pertama Ia berkunjung.

3.    Sewaktu : Kumpulkan dahak ketiga (dahak Sewaktu) di laboratorium pada saat pasien kembali ke laboratorium pada hari kedua saat membawa dahak pagi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menilai kualitas dahak:

1.    Periksa kekentalan, warna, dan volume dahak. Dahak yang baik untuk pemeriksaan adalah berwarna kuning kehijau–hijuan (mukopurulen), dan kental.

2.    Hindari menggunakan spesimen dahak yang mengandung sisa makanan atau partikel padat lainnya. Apabila tidak memungkinkan untuk mendapatkan spesimen baru, lakukan pengolahan spesimen dan ambil bagian yang tidak bercampur dengan sisa makanan atau partikel padat lainnya.

Hal yang perlu diperhatikan saat pengemasan spesimen :

1.        Pot spesimen ditutup rapat dan disegel dengan parafilm.

2.        Masukkan pot spesimen ke dalam kantong plastik klip berisi 1 lembar tisu. Pastikan klip tertutup sempurna, rapikan dan ikat dengan karet gelang.

3.        Masukkan kantong plastik yang telah berisi pot terduga TB ke dalam cool box/ Styrofoam box/ kotak plastik.

4.        Masukkan ice pack gel/ cool pack beku/ ice cube untuk menjaga suhu tetap dingin.

5.        Isi ruang kosong pada cool box/styrofoam box/kotak plastik dengan potongan kertas bekas sampai seluruh box padat agar posisi pot dahak tidak berubah.

6.        Tutup cool box/ Styrofoam box/ kotak plastik dengan rapat, rekatkan lakban bening di sekeliling tutupnya.

7.    Tempelkan label tanda arah panah () sesuai arah atas pot dan label BAHAN RUJUKAN LABORATORIUM pada dinding cool box/ Styrofoam box/ kotak plastik.

8.        Masukkan lembar rujukan permintaan pemeriksaan laboratorium ke dalam amplop yang bertuliskan alamat laboratorium rujukan dan pengirim.

9.        Masukkan amplop dalam kantung plastik klip.

10.    Tempelkan amplop pada bagian atas cool box/ Styrofoam box/ kotak plastik, rekatkan dengan lakban bening.

11.    Contoh pelabelan pengemasan dan pengiriman pot:

a.         Gambar tanda panah dan barang mudah pecah



b.        Amplop bertuliskan alamat pengirim dan laboratorium rujukan



 

 

Ada 4 kemungkinan hasil Tes Cepat Molekuler Tuberkulosis :

1.    Mycobacteria TB infalid artinya sampel yang dikirim kurang bagus (rusak) maka dari itu pasien diminta untuk mengeluarkan dahak lagi.

2.    Mycobacteria Tb not detected  artinya Tuberkulosis negative

3.    Mycobacteria TB detected artinya ada bakteri Tuberkulosis dan Rifampisin  resistan maka pasien masih bisa diberikan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dalam waktu 6 bulan tanpa terjeda

4.    Mycobacteria TB detected dan Rifamfisin artinya TB MDR (Multi Drug Resistant) maka pasien harus diberikan obat yang lain lagi dan dokter yang diberikan dengan suntikan dalam waktu 2 tahun tanpa terjeda.


BAB IV      HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

A.  Hasil

Berdasarkan praktikum yang sudah dilaksanakan pada tanggal 11 April 2023 pada pukul   09.30-selesai yang dilaksanakan di laboratorium keperawatan Kampus 2 Fakultas Ilmu Kesehatan Uniersitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan di dapatkan hasil sebagai berikut :  


No.

Gambar

Keterangan

1.




Nama Klien : Dian Pramesti Wulan

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 21tahun

Sputum yang diambil sudah sesuai dengan kebutuhan untuk pengecekan (memenuhi seluruh permukaan pot sputum)

Dan hasilnya normal

 

 

B.  Pembahasan

Pada  praktikum ini telah dilakukan pengambilan spesimen sputum untuk pemeriksaan TBC  dengan metode Tes Cepat Molekuler.  Spesimen dahak yang dikeluarkan oleh pasien dikatakan normal dengan kriteria sputum yang bagus untuk pemeriksaan tes cepat molekuler dan jumlah yang sesuai yakni memenuhi seluruh permukaan pot sputum.

Dikarenakan hasil sputum yang normal maka pasien tidak perlu menerima pengobatan secara farmakologi seperti halnya Obat Anti Tuberkulosis atau pun obat  tuberkulosis lainnya.

 

 

C.  Peran Perawat Terhadap Pemeriksaan

Peran perawat dalam pemeriksaan Tuberkulosis yaitu pada bagian pengambilan spesimen dahak  pasien dengan cara membantu pasien bagaimana cara batuk yang benar agar dahak/sputum untuk pemeriksaan Tuberkulosis ini dapat benar-benar keluar dari paru-paru dengan kondisi yang baik untuk pemeriksaan dan juga dalam pengemasan spesimen dahak dari pasien. Oleh karena itu, perawat diharuskan untuk menguasai teknik batuk yang benar dan juga teknik pengemasan spesimen dahak pasien. Perlu diingat pula  pada saat membantu pasien  untuk mengeluarkan spesimen dahak dan juga pengemasan spesimen pasien, perawat diharuskan untuk memakai APD dikarenakan adanya kekhawatiran untuk perawat akan terpapar Mycobacterium Tuberculosis .


 

BAB V     PENUTUP

 

Simpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Sumber penularannya dari percikan dahak pasien, maka dari itu perlu dilakukan pengecekan dahak pasien untuk mengetahui apakah pasien tersebut terinfeksi Mycobacterium tuberculosis atau tidak.

Pengambilan spesimen dahak saat praktikum berjalan dengan baik. Pasien mampu melakukan batuk dengan benar sesuai yang sudah diajarkan sebelumnya dan pasien mampu mengeluarkan dahak yang sesuai dengan kriteria spesimen yang baik untuk pemeriksaan.


DAFTAR PUSTAKA

 

Indonesia, K. K. (2017). Petunjuk Teknis Pemeriksaan TB Menggunakan Tes Cepat Molekuler. (F. S. Andriansjah Rukmana, Ed.) Jakarta. Retrieved April 11, 2023 , from https://www.researchgate.net/publication/342199085_Petunjuk_Teknis_Pemeriksaan_TBC_dengan_TCM

Indonesia, M. K. (2016, Desember 22). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2016 Tentang Penanggulangan Tuberkulosis. Retrieved April 12 , 2023 , from peraturan.bpk.go.id: https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/114486/permenkes-no-67-tahun-2016

Leonita, S. (2021, Juni 16 ). Makalah Pemeriksaan Penunjang Laboratorium (Sputum) Sindy Leonita 034 . Retrieved from id.scribd.com: https://id.scribd.com/document/544522079/Makalah-Pemeriksaan-Penunjang-Laboratorium-Sputum-Sindy-Leonita-034#

Lusinta, H. (2020, Februari 20). Tes Cepat Molekuler. Retrieved April 12, 2023 , from rsupsoeradji.id: https://rsupsoeradji.id/tes-cepat-molekuler-tcm/

 

Komentar