Laporan Praktikum Pengambilan Spesimen Sputum/Dahak Pasien TBC
LAPORAN
PRAKTIKUM
judul
PENGAMBILAN SPESIMEN SPUTUM/DAHAK
PASIEN TBC
Mata Kuliah Ilmu
Dasar Keperawatan
Dosen Pengampu Ibu Irnawati, Ns., Ph.D
DISUSUN
OLEH :
Aziza Azzahra (202202030018)
Kelas
: 2C
SARJANA KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS
MUHAMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN
TAHUN 2022/2023
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu tes uji laboratorium yang dilakukam
terhadap spesimen guna menentukan penyakit yaitu dengan menggunakan dahak atau
sputum. Pemeriksaan sputum adalah salah satu pemeriksaan utama khususnya untuk
penyakit di paru-paru seperti TBC dan sekitarnya yang dapat dideteksi dengan
sputum
Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu ancaman
kesehatan yang mematikan dan masih memiliki kelemahan dalam metode deteksi yang
efektif. Hal tersebut berkontribusi terhadap masalah TB di seluruh dunia,
karena pasien TB yang tidak mendapat pengobatan tepat dapat menjadi sumber
infeksi di komunitas. Kasus TB yang tidak diobati juga meningkatkan mortalitas,
khususnya pada penderita HIV
Metode pemeriksaan yang banyak digunakan di
negara endemik TB adalah pemeriksaan mikroskopis. Namun demikian metode
tersebut memiliki sensitivitas yang rendah, tidak mampu dalam menentukan
kepekaan obat, dan memiliki kualitas yang berbeda-beda karena dipengaruhi oleh
tingkat keterampilan teknisi dalam melakukan pemeriksaan. Diagnosis
konvensional untuk mendeteksi TB Resistan Obat (TB RO) bergantung pada biakan
dan uji kepekaan obat yang membutuhkan waktu lama dan prosedur khusus dalam
isolasi bakteri dari spesimen klinik, identifikasi Mycobacterium tuberculosis
(MTB) kompleks, dan pemeriksaan in vitro dalam uji kepekaan obat anti
tuberkulosis (OAT). Selama pemeriksaan, pasien mungkin mendapatkan pengobatan
yang tidak sesuai, sehingga meningkatkan kemungkinan berkembangnya strain TB
resistan obat dan kejadian resistan. Hal tersebut diharapkan dapat diatasi
dengan penggunaan pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) dengan Xpert MTB/RIF
yang cepat dan dapat mengidentifikasi keberadaan MTB dan resistansi terhadap rifampisin
secara simultan, sehingga inisiasi dini terapi yang akurat dapat diberikan dan
dapat mengurangi insiden TB secara umum. Hasil penelitian skala besar
menunjukkan bahwa pemeriksaan TCM dengan Xpert MTB/RIF memiliki sensitivitas
dan spesifisitas untuk diagnosis TB yang jauh lebih baik dibandingkan
pemeriksaan mikroskopis serta mendekati kualitas diagnosis dengan pemeriksaan
biakan
Teknologi molekuler dalam mendiagnosis TB sudah
digunakan sejak beberapa waktu yang lalu. Namun demikian, metode yang digunakan
terlalu kompleks untuk pemeriksaan rutin di negara berkembang. Tahapan
pengolahan spesimen dan ekstraksi DNA mempersulit implementasi di negara dengan
sumber daya terbatas. Saat ini, pemeriksaan TCM dengan Xpert MTB/RIF merupakan
satu – satunya pemeriksaan molekuler yang mencakup seluruh elemen reaksi yang
diperlukan termasuk seluruh reagen yang diperlukan untuk proses PCR (Polymerase
Chain Reaction) dalam satu katrid (Gambar 1.1). Pemeriksaan Xpert MTB/RIF mampu
mendeteksi DNA MTB kompleks secara kualitatif dari spesimen langsung, baik dari
dahak maupun non dahak. Selain mendeteksi MTB kompleks, pemeriksaan Xpert
MTB/RIF juga mendeteksi mutasi pada gen rpoB yang menyebabkan resistansi
terhadap rifampisin. Pemeriksaan Xpert MTB/RIF dapat mendiagnosis TB dan
resistansi terhadap rifampisin secara cepat dan akurat, namun tidak dapat
digunakan sebagai pemeriksaan lanjutan (monitoring) pada pasien yang mendapat
pengobatan
B. Tujuan
Tujuan dari
praktikum ini adalah mahasiswa dapat menguasai cara pengambilan spesimen dahak
pasien TBC dan cara pengemasan spesimen
sebelum dikirimkan ke laboratorium untuk di periksa
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi
Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang
disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Terdapat beberapa spesies
Mycobacterium, antara lain: M.tuberculosis, M.africanum, M. bovis, M. Leprae
dsb. Yang juga dikenal sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA). Kelompok bakteri
Mycobacterium selain Mycobacterium tuberculosis yang bisa menimbulkan gangguan
pada saluran nafas dikenal sebagai MOTT (Mycobacterium Other Than Tuberculosis)
yang terkadang bisa mengganggu penegakan diagnosis dan pengobatan TB
B. Sifat Kuman Tuberculosis
Secara umum sifat kuman Mycobacterium
tuberculosis antara lain adalah sebagai berikut
1. Berbentuk
batang dengan panjang 1-10 mikron, lebar 0,2 – 0,6 mikron.
2. Bersifat
tahan asam dalam perwanraan dengan metode Ziehl Neelsen, berbentuk batang
berwarna merah dalam pemeriksaan dibawah mikroskop.
3. Memerlukan
media khusus untuk biakan, antara lain Lowenstein Jensen, Ogawa.
4. Tahan
terhadap suhu rendah sehingga dapat bertahan hidup dalam jangka waktu lama pada
suhu antara 4°C sampai minus 70°C.
5. Kuman
sangat peka terhadap panas, sinar matahari dan sinar ultra violet. Paparan
langsung terhada sinar ultra violet, sebagian besar kuman akan mati dalam waktu
beberapa menit. Dalam dahak pada suhu antara 30-37°C akan mati dalam waktu
lebih kurang 1 minggu.
6. Kuman
dapat bersifat dorman
C. Sumber
Penularan Tuberculosis
Sumber penularan adalah pasien TB terutama pasien
yang mengandung kuman TB dalam dahaknya. Pada waktu batuk atau bersin, pasien
menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei / percik
renik). Infeksi akan terjadi apabila seseorang menghirup udara yang mengandung
percikan dahak yang infeksius. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000
percikan dahak yang mengandung kuman sebanyak 0-3500 M.tuberculosis. Sedangkan
kalau bersin dapat mengeluarkan sebanyak 4500 – 1.000.000 M.tuberculosis
D. Pemeriksaan
Test Cepat Molekuler
Pemeriksaan TCM merupakan metode deteksi
molekuler berbasis nested real-time PCR. Penggunaan TCM menjadi
prioritas pemeriksaan TB oleh karena mempunyai beberapa kelebihan, di antaranya
1. Sensitivitas
tinggi
2. Cepat :
hasil dapat diketahui dalam waktu kurang lebih 2 jam.
3. Dapat
mendeteksi secara simultan / bersamaan adanya bakteri MTB dan resistensi
terhadap rifampisin, yang merupakan salah satu obat anti tuberkulosis yang
paling sering digunakan.
Untuk mendiagnosis TB paru, spesimen yang
digunakan pada pemeriksaan TCM adalah dahak, baik yang didapat dengan berdahak
langsung ataupun dengan diinduksi. Namun pada anak-anak dapat juga digunakan
spesimen bilasan lambung ataupun feses. Sedangkan untuk TB ekstra paru,
menggunakan spesimen sesuai dengan lokasi infeksi, yang akan ditentukan oleh
dokter yang merawat
BAB III
METODE
A. Alat Dan Bahan
1. Pot
Sputum bermulut lebar (± diameter 5 cm) bertuliskan nama, nomor Rekam Medis (RM),
tanggal, jam, hasil (tidak perlu diisi)
2. Handscoon
Bersih 2 pasang
3. Alcohol
Kapas / Alcohol Swab
4. Tisu
5. Plastic
Ziplock yang baru (yang cukup untuk pot sputum)
6. Termos
(alat untuk mengirim sputum) yang berisi ice gel
7. Handrub/handsanitizer
8. Masker
N95 (Sebagai APD)
B. Prosedur
1.
Pasien
datang ke Poli umum yang nantinya akan dikaji
oleh dokter mengenai keluhan yang dirasakan pasien (misal: batuk selama
2 minggu dan berdahak). Kemudian dokter akan meminta perawat untuk mengecek
(mengambil spesimen) dahak pasien.
2.
Sebelum
menemui pasien perawat harus mencuci tangan dan mengenakan Alat Pelindung Diri
(APD).
3. Perawat
menemui pasien dan mengucapkan salam terapeutik
a. Mengucap
salam
b. Memperkenalkan
diri
c. Memastikan
identitas pasien benar
d. Menjelaskan
tujuan, bagaimana tindakan yang akan dilakukan, dan persetujuan pasien
4. Mencuci
tangan 6 langkah
5. Memakai
handscoon bersih
6. Kemudian
perawat memperagakan cara batuk yang benar agar dahak yang berkualitas untuk
pemeriksaan Tb bisa benar-benar keluar dari paru-paru pasien.
a. Meminta
pasien berkumur-kumur (agar sisa makanan bersih)
b. Tarik
napas 3 kali dari hidung kemudian dihembuskan melalui mulut, dengan bentuk
mulut seperti huruf O
c. Pada
tarikan napas ke 3 setelah itu langsung dibatukkan dengan kencang agar dahak
masuk ke dalam pot sputum
d. Ulangi
batukan jika sputum belum sampai memenuhi seluruh permukaan bawah pot sputum
7. Setelah
diperagakan oleh perawat, karena pengeluaran spesimen dahak harus di tempat
yang khusus untuk berdahak maka pasien ke bilik dahak untuk mengeluarkan
dahaknya. Tempat bilik dahak haruslah di ruang terbuka, terkena sinar matahari,
ada tempat sampah infeksius, tisu, dan tidak dilalui banyak orang.
8. Setelah
selesai pasien kembali ke ruang tunggu. Perawat melakukan tahap terminasi
sekaligus memberikan 2 pot sputum berserta plastik ziplock untuk pengambilan
dahak di pagi hari.
9. Kemudian
bersihkan pot sputum menggunakan kapas alkohol
10. Lepas
handscoon yang sudah dikenakan, cuci tangan dan kenakan handscoon yang baru.
11. Masukkan
pot sputum ke dalam plastik ziplock dan setelah itu masukkan ke dalam termos
yang sudah berisi ice gel.
12. Spesimen
dahak siap diantarkan ke laboratorium untuk diperiksa dengan mesin cepat
Keterangan :
Untuk menegakkan diagnosis TB secara mikrosko¬pis
dibutuhkan tiga contoh uji dahak. Pengumpulan spesimen dahak dilakukan dalam
waktu 2 hari yaitu Sewaktu – Pagi – Sewaktu (SPS)
1. Sewaktu
hari : Dahak pertama diambil Sewaktu pada saat pasien berkunjung ke fasilitas
pelayanan kesehatan; Beri pot dahak pada saat pasien pulang untuk keperluan
pengumpulan dahak pagi hari berikutnya.
2. Pagi Pasien mengeluarkan dahak pada pagi kedua
setelah pasien mengunjungi fasilitas peyanan kesehatan. Dahak diambil setelah
pasien bangun tidur, sebelum memakan apapun. Kemudian membawa dahaknya langsung
pada hari itu juga ke fasilitas pelayanan kesehatan yang sama saat hari pertama
Ia berkunjung.
3. Sewaktu
: Kumpulkan dahak ketiga (dahak Sewaktu) di laboratorium pada saat pasien
kembali ke laboratorium pada hari kedua saat membawa dahak pagi.
Hal-hal yang
perlu diperhatikan untuk menilai kualitas dahak:
1.
Periksa kekentalan, warna,
dan volume dahak. Dahak yang baik untuk pemeriksaan adalah berwarna kuning
kehijau–hijuan (mukopurulen), dan kental.
2.
Hindari menggunakan
spesimen dahak yang mengandung sisa makanan atau partikel padat lainnya.
Apabila tidak memungkinkan untuk mendapatkan spesimen baru, lakukan pengolahan
spesimen dan ambil bagian yang tidak bercampur dengan sisa makanan atau
partikel padat lainnya.
Hal yang perlu diperhatikan saat
pengemasan spesimen :
1.
Pot spesimen ditutup rapat
dan disegel dengan parafilm.
2.
Masukkan pot spesimen ke
dalam kantong plastik klip berisi 1 lembar tisu. Pastikan klip tertutup
sempurna, rapikan dan ikat dengan karet gelang.
3.
Masukkan kantong plastik
yang telah berisi pot terduga TB ke dalam cool box/ Styrofoam box/ kotak
plastik.
4.
Masukkan ice pack gel/ cool
pack beku/ ice cube untuk menjaga suhu tetap dingin.
5.
Isi ruang kosong pada cool
box/styrofoam box/kotak plastik dengan potongan kertas bekas sampai seluruh box
padat agar posisi pot dahak tidak berubah.
6.
Tutup cool box/ Styrofoam
box/ kotak plastik dengan rapat, rekatkan lakban bening di sekeliling tutupnya.
7.
Tempelkan label tanda arah
panah (
) sesuai arah atas pot dan
label BAHAN RUJUKAN LABORATORIUM pada dinding cool box/ Styrofoam box/ kotak
plastik.
8.
Masukkan lembar rujukan
permintaan pemeriksaan laboratorium ke dalam amplop yang bertuliskan alamat
laboratorium rujukan dan pengirim.
9.
Masukkan amplop dalam
kantung plastik klip.
10.
Tempelkan amplop pada
bagian atas cool box/ Styrofoam box/ kotak plastik, rekatkan dengan lakban
bening.
11.
Contoh pelabelan pengemasan
dan pengiriman pot:
a.
Gambar tanda panah dan
barang mudah pecah
b.
Amplop bertuliskan alamat
pengirim dan laboratorium rujukan
Ada 4 kemungkinan hasil Tes Cepat Molekuler
Tuberkulosis :
1. Mycobacteria
TB infalid artinya sampel yang dikirim kurang bagus (rusak) maka dari itu
pasien diminta untuk mengeluarkan dahak lagi.
2. Mycobacteria
Tb not detected artinya Tuberkulosis
negative
3. Mycobacteria
TB detected artinya ada bakteri Tuberkulosis dan Rifampisin resistan maka pasien masih bisa diberikan Obat
Anti Tuberkulosis (OAT) dalam waktu 6 bulan tanpa terjeda
4. Mycobacteria
TB detected dan Rifamfisin artinya TB MDR (Multi Drug Resistant) maka pasien
harus diberikan obat yang lain lagi dan dokter yang diberikan dengan suntikan
dalam waktu 2 tahun tanpa terjeda.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Berdasarkan praktikum yang sudah dilaksanakan
pada tanggal 11 April 2023 pada pukul 09.30-selesai
yang dilaksanakan di laboratorium keperawatan Kampus 2 Fakultas Ilmu Kesehatan
Uniersitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan di dapatkan hasil sebagai berikut
:
|
No. |
Gambar |
Keterangan |
|
1. |
|
Nama
Klien : Dian Pramesti Wulan Jenis
Kelamin : Perempuan Usia :
21tahun Sputum
yang diambil sudah sesuai dengan kebutuhan untuk pengecekan (memenuhi seluruh
permukaan pot sputum) Dan
hasilnya normal
|
B. Pembahasan
Pada praktikum ini telah dilakukan pengambilan
spesimen sputum untuk pemeriksaan TBC
dengan metode Tes Cepat Molekuler. Spesimen dahak yang dikeluarkan oleh pasien
dikatakan normal dengan kriteria sputum yang bagus untuk pemeriksaan tes cepat
molekuler dan jumlah yang sesuai yakni memenuhi seluruh permukaan pot sputum.
Dikarenakan
hasil sputum yang normal maka pasien tidak perlu menerima pengobatan secara
farmakologi seperti halnya Obat Anti Tuberkulosis atau pun obat tuberkulosis lainnya.
C. Peran Perawat Terhadap Pemeriksaan
Peran perawat
dalam pemeriksaan Tuberkulosis yaitu pada bagian pengambilan spesimen
dahak pasien dengan cara membantu pasien
bagaimana cara batuk yang benar agar dahak/sputum untuk pemeriksaan
Tuberkulosis ini dapat benar-benar keluar dari paru-paru dengan kondisi yang
baik untuk pemeriksaan dan juga dalam pengemasan spesimen dahak dari pasien.
Oleh karena itu, perawat diharuskan untuk menguasai teknik batuk yang benar dan
juga teknik pengemasan spesimen dahak pasien. Perlu diingat pula pada saat membantu pasien untuk mengeluarkan spesimen dahak dan juga
pengemasan spesimen pasien, perawat diharuskan untuk memakai APD dikarenakan
adanya kekhawatiran untuk perawat akan terpapar Mycobacterium Tuberculosis .
BAB V
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan
praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang
disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Sumber penularannya dari
percikan dahak pasien, maka dari itu perlu dilakukan pengecekan dahak pasien
untuk mengetahui apakah pasien tersebut terinfeksi Mycobacterium tuberculosis
atau tidak.
Pengambilan spesimen dahak saat praktikum
berjalan dengan baik. Pasien mampu melakukan batuk dengan benar sesuai yang
sudah diajarkan sebelumnya dan pasien mampu mengeluarkan dahak yang sesuai
dengan kriteria spesimen yang baik untuk pemeriksaan.
DAFTAR PUSTAKA
Indonesia, K. K. (2017). Petunjuk Teknis
Pemeriksaan TB Menggunakan Tes Cepat Molekuler. (F. S. Andriansjah Rukmana,
Ed.) Jakarta. Retrieved April 11, 2023 , from
https://www.researchgate.net/publication/342199085_Petunjuk_Teknis_Pemeriksaan_TBC_dengan_TCM
Indonesia, M. K. (2016, Desember 22). Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2016 Tentang Penanggulangan
Tuberkulosis. Retrieved April 12 , 2023 , from peraturan.bpk.go.id:
https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/114486/permenkes-no-67-tahun-2016
Leonita, S. (2021, Juni 16 ). Makalah Pemeriksaan
Penunjang Laboratorium (Sputum) Sindy Leonita 034 . Retrieved from
id.scribd.com:
https://id.scribd.com/document/544522079/Makalah-Pemeriksaan-Penunjang-Laboratorium-Sputum-Sindy-Leonita-034#
Lusinta, H. (2020, Februari
20). Tes Cepat Molekuler. Retrieved April 12, 2023 , from
rsupsoeradji.id: https://rsupsoeradji.id/tes-cepat-molekuler-tcm/






Komentar
Posting Komentar