Covid
PENJELASAN
MENGENAI PENYAKIT COVID
Mata
Kuliah: Teknologi Infomasi
Dosen
Pengampu: Alfa Yuliana Dewi,S.Kom.,M.Kom
DISUSUN
OLEH :
Aziza Azzahra (202202030018)
Kelas
: 2C
SARJANA KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS
MUHAMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN
TAHUN 2022/2023
A. Pengertian
COVID-19 adalah penyakit akibat infeksi virus severe acute respiratory syndrome coronavirus
2 (SARS-CoV-2). COVID-19 dapat
menyebabkan gangguan sistem pernapasan, mulai dari gejala yang ringan
seperti flu, hingga infeksi paru-paru, seperti pneumonia.
COVID-19 (coronavirus disease 2019)
adalah penyakit baru yang disebabkan oleh virus dari golongan Coronavirus,
yaitu SARS-CoV-2 yang juga sering disebut virus Corona.
B.
Penyebab
COVID-19
COVID-19
disebabkan oleh SARS-CoV-2, yaitu virus jenis baru dari Coronavirus (kelompok
virus yang menginfeksi sistem pernapasan). Infeksi virus Corona bisa menyebabkan
infeksi pernapasan ringan sampai sedang, seperti flu, atau infeksi sistem
pernapasan dan paru-paru, seperti pneumonia.
COVID-19
awalnya diduga ditularkan dari hewan ke manusia. Setelah itu, diketahui bahwa
infeksi ini juga bisa menular dari manusia ke manusia. Penularannya bisa
melalui cara-cara berikut:
1.
Tidak
sengaja menghirup percikan ludah (droplet) yang keluar saat penderita COVID-19
bersin atau batuk
2.
Memegang
mulut, hidung, atau mata tanpa mencuci tangan terlebih dulu, setelah menyentuh
benda yang terkena droplet penderita COVID-19, misalnya uang atau gagang pintu
3.
Kontak
jarak dekat (kurang dari 2 meter) dengan penderita COVID-19 tanpa mengenakan
masker
CDC dan WHO menyatakan COVID-19 juga
bisa menular melalui aerosol (partikel zat di udara). Meski demikian, cara penularan
ini biasanya terjadi dalam prosedur medis tertentu, seperti bronkoskopi, intubasi endotrakeal, isap
lendir, dan pemberian obat hirup melalui nebulizer.
Penularan melalui udara ini juga bisa
lebih mudah terjadi di tengah kerumunan orang, khususnya di dalam ruang
tertutup.
Dari data
yang dikeluarkan oleh WHO, sampai saat ini sudah ditemukan beberapa varian
SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Berikut rincian jenis varian baru tersebut:
1.
Varian
Alfa (B.1.1.7), yang pertama kali ditemukan di Inggris pada September 2020.
2.
Varian
Beta (B.1.351/B.1.351.2/B.1.351.3), yang pertama kali ditemukan di Afrika
Selatan pada Mei 2020.
3.
Varian
Gamma (P.1/P.1.1/P.1.2), yang pertama kali ditemukan di Brazil pada November
2020.
4.
Varian
Delta (B.1.617.2/AY.1/AY.2/AY.3), yang pertama kali ditemukan di India pada
Oktober 2020.
5.
Varian
Omicron (B.1.1.529) yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan pada November
2021.
Varian Omicron merupakan varian utama
virus penyebab COVID-19 yang saat ini sedang menyebar luas. Varian Omicron
terdiri dari beberapa subvarian, yaitu BA.1, BA. 1.1, BA.2, BA.3, dan XBB.
Varian Omicron BA.4 dan BA.5 adalah
subvarian terbaru yang baru terdeteksi di Indonesia pada bulan Juni 2022.
Subvarian ini kemungkinan menular lebih cepat dibandingkan subvarian BA.1 dan
BA.2.
C.
Faktor
Risiko COVID-19
COVID-19 dapat menginfeksi siapa saja,
tetapi efeknya akan lebih berbahaya atau
bahkan fatal bila menyerang lansia (orang lanjut usia), ibu hamil, perokok, penderita penyakit tertentu, dan orang yang daya
tahan tubuhnya lemah, seperti penderita kanker.
Karena mudah menular, penyakit ini
juga berisiko tinggi menginfeksi para tenaga medis yang merawat pasien
COVID-19. Oleh sebab itu, tenaga medis dan orang yang melakukan kontak dengan
pasien COVID-19 perlu menggunakan alat pelindung diri (APD).
D.
Gejala COVID-19
Gejala awal infeksi COVID-19
bisa menyerupai gejala flu, yaitu demam, pilek, batuk
kering, sakit tenggorokan, dan sakit kepala.
Setelah itu, gejala dapat hilang dan sembuh atau malah memberat.
Penderita dengan gejala yang berat
bisa mengalami demam tinggi, batuk berdahak atau berdarah, sesak napas, dan
nyeri dada. Gejala-gejala tersebut di atas muncul ketika tubuh bereaksi melawan virus COVID-19.
Secara umum, ada tiga gejala umum yang
bisa menandakan seseorang terinfeksi COVID-19, yaitu:
1. Demam (suhu
tubuh di atas 38°C)
2. Batuk kering
3. Sesak napas
Selain gejala
di atas, ada beberapa gejala lain yang jarang terjadi, tetapi juga bisa muncul
pada infeksi COVID-19, yaitu:
1.
Mudah lelah
2.
Nyeri otot
3.
Nyeri dada
4.
Sakit tenggorokan
5.
Sakit kepala
6.
Mual atau muntah
7.
Diare
8.
Pilek atau hidung tersumbat
9.
Menggigil
10. Bersin-bersin
11. Hilangnya kemampuan mengecap rasa
12. Hilangnya kemampuan mencium bau (anosmia)
Gejala COVID-19 bisa muncul dalam 2
hari sampai 2 minggu setelah seseorang terinfeksi virus penyebabnya.
Sebagian penderita juga mengalami happy hypoxia, yaitu penurunan oksigen
tanpa adanya gejala lain. Selain itu, beberapa laporan kasus juga menyebutkan
sebagian pasien COVID-19 dapat mengalami ruam kulit.
Untuk memastikan apakah gejala-gejala
tersebut merupakan gejala dari virus Corona, diperlukan rapid test atau PCR. Untuk menemukan tempat
melakukan rapid test atau PCR di sekitar rumah
Anda, klik di sini.
Pada beberapa penderita, COVID-19
dapat tidak menimbulkan gejala sama sekali. Orang yang sudah terkonfirmasi
positif COVID-19 melalui pemeriksaan RT-PCR namun tidak mengalami gejala
disebut sebagai kasus konfirmasi asimptomatik. Penderita ini tetap bisa
menularkan COVID-19 ke orang lain.
E. Diagnosis COVID-19
Untuk menentukan apakah pasien
terinfeksi COVID-19, dokter akan menanyakan gejala yang
dialami pasien, riwayat perjalanan pasien, dan apakah sebelumnya pasien ada
kontak dekat dengan orang yang diduga terinfeksi COVID-19.
Setelah itu, dokter akan melakukan
pemeriksaan berikut:
1. Rapid test antigen, untuk mendeteksi
antigen yaitu protein yang ada di bagian terluar virus
2. Tes PCR (polymerase chain
reaction) atau swab test, untuk mendeteksi virus Corona di dalam
lapisan hidung
3. CT scan atau Rontgen dada, untuk mendeteksi infiltrat
atau cairan di paru-paru
4. Tes darah lengkap, untuk memeriksa kadar
sel darah putih dan C-reactive protein
5. Analisis gas darah, untuk memeriksa kadar
oksigen dan karbon dioksida di dalam darah
Perlu diketahui, rapid
test pada COVID-19 hanya digunakan sebagai tes skrining atau
pemeriksaan awal, bukan untuk memastikan diagnosis COVID-19. Hasil rapid
test positif belum tentu menandakan Anda terkena COVID-19. Anda bisa saja
mendapatkan hasil positif bila pernah terinfeksi virus lain atau Coronavirus jenis
lain.
Sebaliknya, hasil rapid test COVID-19 negatif juga
belum tentu menandakan bahwa Anda terbebas dari COVID-19. Oleh sebab itu, apa
pun hasil rapid test Anda, konsultasikan dengan dokter agar dapat
diberikan pengarahan lebih lanjut, termasuk perlu tidaknya mengonfirmasi hasil
tes tersebut dengan tes PCR. Biasanya tes PCR akan melampirkan hasil
positif atau negatif dengan nilai CT value.
F.
Pengobatan COVID-19
Sampai saat ini, belum ada obat yang
secara pasti dapat mengatasi penyakit COVID-19. Jika Anda didiagnosis COVID-19
tetapi tidak mengalami gejala atau hanya mengalami gejala ringan, Anda cukup
melakukan perawatan atau isolasi mandiri di rumah.
Penting untuk diingat, ruangan isolasi
harus memiliki ventilasi dan cahaya yang baik serta pertukaran udara yang
cukup. Selain itu, ruangan isolasi juga wajib dibersihkan setiap hari dengan
air sabun atau desinfektan.
Selama isolasi mandiri, perhatikan
beberapa hal berikut:
1. Lakukan isolasi mandiri selama 2
minggu dengan tidak keluar rumah dan menjaga jarak dengan orang dalam satu
rumah.
2. Selalu gunakan masker jika keluar
rumah atau saat akan berinteraksi dengan anggota keluarga.
3. Terapkan etika batuk.
4. Ukur suhu tubuh dua kali sehari,
pagi dan malam hari.
5. Cuci tangan dengan sabun, air
mengalir, atau hand sanitizer.
6. Banyak minum air putih untuk
menjaga kadar cairan tubuh.
7. Istirahat yang cukup untuk
mempercepat proses penyembuhan.
8. Konsumsi obat pereda batuk, demam,
dan nyeri, setelah berkonsultasi dengan dokter.
9. Perhatikan gejala yang Anda alami
dan segera hubungi dokter jika gejala memburuk.
Penelitian menunjukkan bahwa pasien
COVID-19 dengan gejala ringan dapat sembuh dalam 2 minggu. Namun, sebelum Anda
mengakhiri isolasi mandiri dan kembali beraktivitas, tetap lakukan konsultasi
dengan dokter untuk mengetahui apakah Anda sudah memenuhi kriteria sembuh dari COVID-19.
Jika Anda didiagnosis COVID-19 dan
mengalami gejala berat, dokter akan merujuk Anda untuk menjalani perawatan dan
karantina di rumah sakit rujukan. Metode yang dapat dilakukan dokter
antara lain:
1. Memberikan obat untuk mengurangi
keluhan dan gejala
2. Memasang ventilator atau alat bantu
napas guna mencukupi kebutuhan oksigen
3. Memberikan infus cairan agar tetap terhidrasi
4. Memberikan obat pengencer darah
dan pencegah penggumpalan darah
5.
Memberikan obat antiperadangan atau
antiinterleukin-6 (IL-6)
Selain metode di atas, penelitian
terhadap beberapa jenis obat dan metode yang
efektif untuk mengatasi COVID-19 masih terus dilakukan. Obat-obatan tersebut
termasuk beberapa jenis antivirus, yaitu favipiravir, molnupiravir, dan remdesivir untuk melawan virus corona.
Akan tetapi, hingga saat ini,
penelitian menunjukkan bahwa obat antivirus belum terbukti efektif dalam
mengobati COVID-19.
G. Komplikasi COVID-19
Pada kasus yang parah, infeksi
COVID-19 bisa menyebabkan komplikasi serius berupa:
1.
Gagal napas akut
2.
Pneumonia
3.
Gagal jantung akut
4.
Gagal hati akut
5.
Infeksi sekunder pada organ lain,
seperti penyakit jamur hitam
6.
Gagal ginjal
7.
Gangguan pembekuan darah
9.
ARDS (acute respiratory distress
syndrome)
10. Syok septik
11.
Kematian
Selain itu, saat ini muncul
istilah long haul COVID-19. Istilah ini
merujuk kepada seseorang yang sudah dinyatakan sembuh melalui hasil pemeriksaan
PCR yang sudah negatif, tetapi tetap merasakan keluhan, seperti:
1. Lemas
2. Batuk
3. Nyeri sendi
4. Nyeri dada
5. Sulit berkonsentrasi
6. Jantung berdebar
7. Demam yang hilang timbul
H. Pencegahan COVID-19
Saat ini, Indonesia sedang menjalankan
program vaksinasi COVID-19 secara bertahap.
Sampai Juni 2022, data menunjukkan 96,6% penduduk telah menerima vaksin dosis
pertama dan sekitar 80,91% telah menerima vaksin dosis kedua. Tambahannya,
sebanyak 23,59% penduduk sudah menerima vaksin booster.
Vaksinasi COVID-19 bertujuan untuk
membangun kekebalan tubuh terhadap virus Corona, sekaligus membentuk kekebalan
kelompok atau herd immunity. Makin banyak orang yang divaksinasi, makin
cepat pula penularan COVID-19 terputus. Selain itu, kondisi ekonomi yang
terdampak oleh pandemi juga akan pulih.
Agar tujuan-tujuan di atas tercapai,
vaksin COVID-19 kini diberikan pada anak usia 6–18 tahun, ibu hamil, dan ibu
menyusui. Sedangkan bagi orang dengan riwayat penyakit atau kondisi kesehatan
tertentu, pemberian vaksin harus disertai ijin dari dokter.
Perlu diketahui, meski Anda telah
menerima vaksin COVID-19 dosis kedua, Anda tetap harus menghindari
faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko terinfeksi virus ini. Caranya
adalah dengan melakukan hal-hal di bawah ini:
1. Terapkan physical distancing, yaitu menjaga
jarak minimal 2 meter dari orang lain, dan jangan dulu ke luar rumah kecuali
ada keperluan mendesak.
2. Gunakan masker saat beraktivitas di tempat
umum atau keramaian, termasuk saat pergi berbelanja bahan makanan.
3. Rutin mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer yang mengandung
alkohol minimal 60%, terutama setelah beraktivitas di luar rumah atau di tempat
umum.
4. Jangan menyentuh mata, mulut, dan
hidung sebelum mencuci tangan.
5. Tingkatkan daya tahan tubuh dengan
menjalani pola hidup sehat, misalnya olahraga rutin dan konsumsi makanan
bergizi serta suplemen.
6. Hindari kontak dengan penderita
COVID-19, orang yang dicurigai positif terinfeksi COVID-19, atau orang yang
sedang sakit demam, batuk, atau pilek.
7. Tutup mulut dan hidung dengan tisu
saat batuk atau bersin, kemudian buang tisu ke tempat sampah.
8. Jaga kebersihan benda yang sering
disentuh dan kebersihan lingkungan, termasuk kebersihan rumah.
9. Jaga sirkulasi dan kebersihan
udara di dalam ruangan. Bila perlu, Anda bisa menggunakan air purifier.
Untuk orang yang diduga terkena COVID-19 (termasuk kategori suspek
dan probable) yang sebelumnya disebut sebagai ODP (orang dalam pemantauan)
dan PDP (pasien dalam pengawasan), ada beberapa langkah yang bisa dilakukan
agar tidak menularkan virus Corona ke orang lain, yaitu:
1.
Lakukan isolasi mandiri dengan tinggal di
ruangan yang terpisah dengan orang lain untuk sementara waktu. Bila tidak
memungkinkan, gunakan kamar tidur dan kamar mandi yang berbeda dengan yang
digunakan orang lain.
2.
Konsumsi obat-obatan yang disarankan oleh
dokter.
3.
Lakukan pengukuran suhu dua kali sehari, pagi
dan malam hari.
4.
Jangan keluar rumah, kecuali untuk
mendapatkan pengobatan.
5.
Hubungi pihak rumah sakit untuk menjemput
bila gejala yang Anda alami bertambah berat.
6.
Larang dan cegah orang lain untuk mengunjungi
atau menjenguk Anda sampai Anda benar-benar sembuh.
7.
Sebisa mungkin jangan melakukan pertemuan
dengan orang yang sedang sedang sakit.
8.
Hindari berbagi penggunaan alat makan dan
minum, alat mandi, serta perlengkapan tidur dengan orang lain.
9.
Pakai masker dan sarung tangan bila terpaksa
harus berada di tempat umum, seperti rumah sakit atau sedang bersama orang
lain.
10. Gunakan tisu untuk menutup mulut
dan hidung bila batuk atau bersin, lalu segera buang tisu ke tempat sampah.
Kondisi-kondisi yang memerlukan
penanganan langsung oleh dokter di rumah sakit, seperti melahirkan, operasi, cuci darah, atau vaksinasi anak, akan ditangani secara
berbeda dengan beberapa penyesuaian selama pandemi COVID-19. Tujuannya adalah
untuk mencegah penularan COVID-19 selama Anda berada di rumah sakit.
Oleh sebab itu, konsultasikan dengan
dokter mengenai tindakan terbaik yang perlu dilakukan bila Anda mengalami
kondisi-kondisi di atas
DAFTAR PUSTAKA
Pittara. (2022, Juni 22). Covid-19. Retrieved
Mei 6, 2023, from alodokter.com: https://www.alodokter.com/covid-19


Komentar
Posting Komentar